CALIFORNIA - Penampilan Presiden Amerika Serikat (AS)
Barack Obama dalam debat di Hofstra University menunjukkan sisi Obama
yang penuh kemarahan. Menurut seorang psikolog, performa Obama itu
merupakan bagian dari masalah psikologi yang belum terselesaikan hingga
sekarang.
"Debat terbuka dan konferensi pers menunjukkan masalah psikologi dan kelemahan Obama. Sudah lama diketahui, bahwa Obama amat tergantung dengan teleprompter dan ketika dirinya bingung memilih kata, menunjukkan dia memiliki masalah psikologi," ujar Dr. Paul Fick, seperti dikutip MMD Newswire, Kamis (18/10/2012).
"Stafnya melakukan berbagai macam cara agar dirinya berbicara sesuai naskah. Ini pula yang menyebabkan dirinya tidak melakukan konferensi pers selama enam bulan terakhir. Tampaknya memang ada masalah psikologi serius yang muncul, ketika Obama menjawab pertanyaan diluar naskah," imbuh Dr Fick.
Dokter yang baru saja mengeluarkan buku "The Destructive President: Inside the Mind of Barack Obama" ini, memutuskan untuk membeberkan masalah tersebut kepada publik. Menurutnya, Obama juga memiliki masalah kejiwaan lainnya.
"Obama menderita kecenderungan untuk paranaoid dan terus membela diri. Ini yang memicu guncangan psikologis yang membuat Obama presiden yang berbahaya dan destruktif. Obama kini memperlihatkan kemarahannya kepada Amerika, yang dicintainya tetapi secara tidak sadar juga amat dibencinya," tutur Fick.
Berdasarkan bukunya, Dr Fick memberikan detil dari temuannya terhadap Obama selama ini. Menurutnya, Amerika perlu mengerti mengapa Obama membuat hancur Amerika. Bagi Fick, Obama dipenuhi oleh kebencian yang dipicu dari kesulitan di masa kecil dan remajanya.
"Obama secara sengaja bermaksud untuk menghancurkan Amerika. Pemikirannya didasarkan atas pemikiran logis seorang korban," jelas Dr. Fick.